IGD 24 JAM
119 / (021) 500-911
Uncategorized 4 menit membaca

Apakah Skoliosis Bisa Sembuh? Pahami Faktor yang Memengaruhi

Ditinjau oleh: cwdem •

Dengarkan Artikel Ini

Gunakan fitur pembaca audio untuk mendengarkan isi artikel.

Apakah Skoliosis Bisa Sembuh? Pahami Faktor yang Memengaruhi

Sebagai penopang utama tubuh, tulang belakang memiliki derajat kelengkungan yang disesuaikan dengan proporsi dan beban tubuh. Kelainan pada tulang belakang tentu dapat memicu kekhawatiran. Salah satu yang cukup sering didengar adalah skoliosis. Skoliosis adalah kondisi ketika tulang belakang mengalami abnormalitas kelengkungan sehingga tampak menyerupai huruf S atau C.

Tidak sedikit yang bertanya: Apakah skoliosis bisa sembuh? Tentunya kemungkinan kesembuhan serta perbaikan kondisi akan bergantung pada berbagai hal, di antaranya kapan waktu pertama kali kondisi ini dideteksi dan terapi skoliosis yang dijalani. Pahami faktor-faktor yang dapat memengaruhi skoliosis lebih lanjut melalui artikel berikut.

Apakah Skoliosis Bisa Sembuh?  

Skoliosis tidak dapat disembuhkan secara total. Namun, skoliosis masih dapat ditangani untuk mencegah perburukan kondisi, mencegah atau mengatasi gangguan pernapasan atau nyeri yang diakibatkan oleh skoliosis, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Jika penderita skoliosis menjalani operasi, apakah bisa sembuh? Cara memperbaiki skoliosis umumnya dapat melibatkan alat penyangga seperti brace atau operasi. Alih-alih menyembuhkan sepenuhnya, brace dan operasi dapat membantu mengendalikan progresivitas kelengkungan dan menjaga kemampuan tulang belakang untuk menahan beban tubuh.

Selain itu, saat mengalami skoliosis, fisioterapi, olahraga ringan, dan perubahan gaya hidup juga bisa mendukung perbaikan kondisi tulang belakang. Dokter akan menentukan langkah penanganan berdasarkan jenis, tingkat keparahan, usia, dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.

Apa Faktor yang Dapat Memengaruhi Perkembangan Skoliosis?  

Penanganan yang tepat memang krusial untuk mengelola gejala skoliosis, sehingga perburukan kondisi dan komplikasi bisa dihindari. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko perburukan skoliosis yang perlu diwaspadai. Berikut penjelasannya:

  1. Usia

Usia adalah salah satu faktor utama yang bisa memengaruhi perkembangan skoliosis, terutama jika kelainan tersebut tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Penderita skoliosis dikatakan lebih berisiko mengalami perburukan tingkat kelengkungan tulang belakang pada usia pertumbuhan. Oleh karena itu, deteksi dan penanganan sejak dini diperlukan untuk mengendalikan progresivitas kondisi.

Selain itu, adult degenerative scoliosis adalah jenis skoliosis yang bermula dengan kondisi skoliosis ringan pada usia muda, yang kemudian bisa semakin parah seiring bertambahnya usia akibat degenerasi pada bantalan tulang belakang.

  1. Derajat Kelengkungan

Derajat kelengkungan yang ditemukan saat pemeriksaan diagnostik untuk skoliosis juga menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan perkiraan risiko perburukan. Menurut artikel pada jurnal yang dipublikasikan di PubMed (2018), skoliosis dengan kelengkungan lebih dari 30° memiliki risiko perburukan, komplikasi, dan penurunan kualitas hidup di kemudian hari yang lebih tinggi.

Namun, perlu diperhatikan bahwa bukan berarti semua kasus dengan kelengkungan lebih dari 30° memiliki prognosis yang kurang baik. Perburukan juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain dan tidak hanya terbatas pada derajat kelengkungan.

  1. Tipe Kelengkungan

Skoliosis memiliki beberapa tipe kelengkungan, di antaranya torakal yang terjadi pada bagian punggung tengah, lumbar yang terjadi pada punggung bawah, dan torakolumbar yang mencakup keduanya.

Terdapat studi (2022) yang menunjukkan bahwa tipe kelengkungan dapat memengaruhi perkembangan skoliosis terutama pada pasien yang tidak menggunakan penyangga (brace). Pada studi ini pula disebutkan bahwa penderita skoliosis tipe torakal yang tidak mengenakan penyangga memiliki risiko perburukan yang lebih tinggi.

Apakah Kebiasaan Sehari-Hari Bisa Memengaruhi Skoliosis?  

Meskipun bukan penyebab utama, beberapa kebiasaan diketahui memiliki kaitan dengan peningkatan risiko terjadinya skoliosis. Kebiasaan yang sebaiknya tidak dilakukan penderita skoliosis meliputi:

Posisi harian dengan panggul yang terlalu condong ke depan (anterior pelvic tilt).

Tidur dengan posisi menyamping ke kanan secara terus-menerus.

Posisi duduk membungkuk.

Oleh karena itu, untuk menjaga agar kelengkungan tulang belakang tetap pada kondisi yang normal, penting untuk menerapkan kebiasaan berikut dalam aktivitas sehari-hari:

Mempertahankan posisi duduk tegak saat belajar atau beraktivitas.

Mengubah posisi duduk secara berkala, terutama saat duduk dalam waktu lama.

Melakukan peregangan setelah menunduk terlalu lama.

Berolahraga rutin, terutama olahraga ringan yang baik untuk postur seperti pilates atau yoga.

Penanganan yang Tepat, Kunci untuk Mengelola Skoliosis  

Pemeriksaan ke dokter disarankan apabila terdapat keluhan yang mengganggu aktivitas atau tanda skoliosis yang semakin terlihat, di antaranya:

Bahu atau pinggul tampak tidak sejajar.

Salah satu tulang belikat terlihat lebih menonjol.

Postur tubuh tampak miring.

Punggung terlihat melengkung saat membungkuk.

Nyeri punggung yang menetap atau semakin mengganggu aktivitas.

Evaluasi lebih awal dapat membantu dokter menilai kondisi tulang belakang dan menentukan pemantauan atau terapi skoliosis. Walau tidak dapat disembuhkan total, penanganan yang tepat bisa membantu mencegah komplikasi dan perburukan. Salah satu langkah yang bisa diambil pasien untuk mendapatkan perawatan optimal adalah memilih rumah sakit orthopaedi yang memiliki tim dokter ahli, fasilitas medis memadai, dan standar pelayanan tepercaya.

Untuk memberikan perawatan skoliosis sesuai kebutuhan, Siloam International Hospitals juga menyediakan layanan orthopaedi yang didukung oleh tim dokter multidisiplin berpengalaman, fasilitas dan teknologi medis canggih, serta kualitas pelayanan dan keselamatan pasien berstandar internasional yang diakui oleh Joint Commission International (JCI) dan Magnet Recognition Program®. Dengan ini, pasien dapat menjalani proses diagnosis dan perawatan dengan lebih tenang dan yakin.

Bagikan: WhatsApp Facebook
c

cwdem

Tim Redaksi Medis RS Medika Prima berdedikasi menghadirkan artikel kesehatan akurat, teruji secara ilmiah, dan mudah dipahami masyarakat luas.