IGD 24 JAM
119 / (021) 500-911
Uncategorized 6 menit membaca

Obat Parkinson Tidak Lagi Cukup Mengontrol Gejala? Kenali Tandanya

Ditinjau oleh: cwdem •

Dengarkan Artikel Ini

Gunakan fitur pembaca audio untuk mendengarkan isi artikel.

Obat Parkinson Tidak Lagi Cukup Mengontrol Gejala? Kenali Tandanya

Obat merupakan bagian penting dalam penanganan penyakit Parkinson untuk membantu mengendalikan gejala dan mempertahankan kemampuan pasien dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, seiring perkembangan penyakit, sebagian pasien dapat mengalami perubahan respons terhadap obat. Efek obat yang sebelumnya dapat bertahan beberapa jam mungkin menjadi lebih singkat sehingga gejala bisa kembali muncul sebelum jadwal minum obat berikutnya.

Kondisi ini tidak berarti bahwa obat Parkinson tiba-tiba berhenti bekerja atau tidak efektif. Perubahan tersebut dapat menjadi tanda bahwa dosis tersebut mulai tidak cukup untuk mengontrol gejala secara optimal. Karena itu, pengobatan perlu dievaluasi kembali oleh dokter. Lantas, apa saja tanda efek obat Parkinson mulai berkurang dan apa yang perlu dilakukan?

Kapan Efek Obat Parkinson Mulai Berkurang?  

Perubahan respons terhadap obat dapat berbeda pada setiap pasien yang mengalami penyakit Parkinson. Berikut beberapa keluhan yang bisa menandakan efek obat Parkinson mulai berkurang:

  1. Gejala Parkinson Kembali Sebelum Jadwal Obat Berikutnya

Umumnya, saat menjalani pengobatan, gejala-gejala Parkinson akan lebih terkendali. Namun, saat gejala tremor, kekakuan, gerakan yang melambat, atau kesulitan berjalan muncul kembali sebelum waktu minum obat berikutnya, maka ini dapat menjadi penanda awal adanya penurunan efek obat Parkinson. Setelah obat diminum, gejala kemudian membaik kembali. Pola ini dapat menjadi tanda wearing-off, yaitu kondisi ketika efek obat, terutama levodopa, mulai berkurang sebelum waktu minum dosis berikutnya.

  1. Muncul Periode ON dan OFF

Tanda selanjutnya yang mengindikasikan efek obat Parkinson berkurang adalah periode ON-OFF yang cepat. Jadi, setelah obat dikonsumsi dan mulai bekerja, pasien dapat mengalami periode ON. Salah satu tandanya adalah gerakan seperti tremor ataupun kekakuan mereda. Namun, kemudian beralih ke periode OFF, ketika gejala Parkinson kembali atau memburuk.

Pada awalnya, perubahan ini mungkin masih dapat diprediksi berdasarkan waktu minum obat. Namun, seiring perkembangan penyakit, periode OFF dapat menjadi lebih sering atau lebih sulit diprediksi.

  1. Tremor, Kaku, atau Gerakan Lambat Kembali

Gejala yang sebelumnya terkendali dengan obat dapat kembali muncul ketika efek obat berkurang. Selain tremor dan kekakuan, pasien dapat mengalami gerakan yang semakin lambat atau kesulitan mempertahankan keseimbangan. Jika perubahan ini mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu disampaikan kepada dokter.

  1. Mengalami Freezing atau Sulit Memulai Gerakan

Sebagian pasien dapat mengalami freezing, yaitu kondisi ketika kaki terasa seperti “menempel” di lantai dan sulit melangkah, terutama ketika mulai berjalan, berbelok, atau melewati ruang yang sempit. Freezing dapat muncul ketika pasien berada dalam kondisi OFF dan dapat meningkatkan risiko terjatuh.

  1. Muncul Gerakan Tidak Terkendali

Gejala Parkinson lain yang kembali muncul ketika efek obat berkurang adalah diskinesia, yaitu gerakan tubuh yang tidak teratur dan tidak disadari oleh pasien, contonya korea atau gerakan seperti menari, adanya kedutan, atau gerakan di bagian tubuh lain. Diskinesia dapat berkaitan dengan penurunan efek levodopa sehingga perlu dievaluasi untuk menentukan penanganan yang tepat.

Mengapa Efek Obat Parkinson Bisa Berkurang?  

Penyakit Parkinson terjadi akibat kerusakan sel saraf pada area subtansia nigra di otak yang menghasilkan dopamin, yaitu zat kimia yang berperan dalam mengatur gerakan. Seiring perkembangan penyakit, jumlah dopamin yang diproduksi akan semakin berkurang sehingga muncul gejala motorik yang semakin memberat seiring penurunan dopamin.

Oleh karena itu salah satu pengobatan penyakit Parkinson ditujukan untuk memperlambat progresifitas penyakit. Pada awal pengobatan, dosis obat yang diberikan diperkirakan akan mampu bertahan dalam jangka waktu tertentu sehingga gejala bisa terkendali dan pasien bisa melakukan aktivitasnya.

Namun, seiring dengan berjalannya penyakit,  pada sebagian pasien, dosis dan jenis obat yang sebelumnya diberikan dapat mengalami penurunan efektivitas, sehingga pasien akan semakin sering mengalami kekambuhan gejala atau keluhan semakin memberat.

Apakah Dosis Obat Parkinson Perlu Ditambah?  

Belum tentu. Jika efek obat Parkinson terasa semakin singkat atau gejala semakin sering muncul, jangan menambah, mengurangi, atau menghentikan obat sendiri. Penentuan dosis dan jenis obat harus dilakukan oleh dokter setelah evaluasi menyeluruh terhadap gejala dan hasil pemeriksaan.

Setelahnya, dokter akan menentukan penanganan yang bisa berupa penyesuaian dosis atau jadwal pemberian obat, penggunaan kombinasi obat tertentu, atau pilihan terapi lain sesuai kondisi pasien. Tujuannya adalah mengendalikan keluhan dan gejala dengan meminimalisir efek samping pengobatan.

Untuk membantu dokter melakukan evaluasi, pasien dapat mencatat:

Waktu minum obat.

Kapan gejala mulai muncul atau memburuk.

Berapa lama gejala berlangsung.

Kapan kondisi kembali membaik setelah minum obat.

Apakah terdapat gerakan tidak terkendali atau keluhan lain.

Kapan Terapi DBS Dipertimbangkan?  

Jika gejala motorik dan fluktuasi kekambuhan keluhan tidak lagi dapat dikendalikan meskipun pengobatan telah dioptimalkan, dokter dapat mempertimbangkan terapi lanjutan, salah satunya deep brain stimulation (DBS).

DBS merupakan terapi yang menggunakan perangkat neurostimulasi untuk memberikan stimulasi listrik pada area tertentu di otak yang berperan dalam pengaturan gerakan. Pada pasien dengan kondisi yang sesuai dengan kriteria pengananan dengan DBS, terapi ini,dapat membantu mengurangi fluktuasi kambuhnya gejala motorik, termasuk tremor, gerakan melambat, hingga diskinesia, sehingga kualitas hidup dapat lebih terjaga.

Namun, DBS bukan pengganti obat dan tidak semua pasien Parkinson akan menjalani terapi ini. Seseorang yang menjadi kandidat DBS perlu menjalani evaluasi menyeluruh, termasuk menilai respons terhadap levodopa, gejala motorik, fungsi kognitif, kondisi psikologis, kesehatan secara keseluruhan, serta faktor lain yang dapat memengaruhi keberhasilan terapi.

Bagaimana Menentukan Terapi Parkinson yang Tepat?  

Penanganan Parkinson bersifat individual. Artinya, terapi yang efektif bagi satu pasien belum tentu memberikan hasil yang sama pada pasien lainnya. Ketika respons terhadap obat mulai berubah, dokter spesialis saraf dapat melakukan evaluasi untuk mengetahui pola gejala dan menentukan apakah pengobatan masih dapat dioptimalkan atau terapi lain perlu dipertimbangkan.

Untuk pasien yang memenuhi kriteria, terapi dengan DBS umumnya melibatkan tim multidisiplin agar kondisi pasien dapat dinilai secara menyeluruh, mulai dari kondisi neurologis hingga faktor yang dapat memengaruhi hasil tindakan dan perawatan setelahnya.

Dalam perjalanan perawatan penyakit Parkinson, ketepatan dalam menentukan pilihan medis dapat membantu pasien menjalani proses pengobatan dengan lebih yakin. Siloam International Hospitals didukung oleh dokter berpengalaman dari berbagai bidang keahlian, teknologi dan fasilitas medis terkini, serta standar kualitas dan keselamatan berstandar internasional melalui Joint Commission International (JCI) dan Magnet Recognition Program® untuk mendukung pasien mendapatkan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya.

Jika Anda merasa obat Parkinson tidak lagi memberikan efek selama sebelumnya, gejala kembali sebelum jadwal minum obat, atau periode ON dan OFF semakin sering terjadi, jangan langsung mengubah dosis obat. Segera kunjungi Dokter Spesialis Neurologi (Otak dan Saraf) di Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh diagnosis yang akurat serta penanganan yang tepat.

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan tindakan medis yang dijalani terkait penyakit Parkinson akan disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan sehingga mungkin berbeda di setiap rumah sakit. Tenaga medis profesional akan memastikan seluruh tahapan pemeriksaan dan pengobatan telah sesuai dengan kondisi medis spesifik pasien.

Untuk memudahkan Anda menemukan dokter spesialis yang Anda butuhkan, gunakan aplikasi MySiloam. Dengan MySiloam, Anda juga dapat melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Bagikan: WhatsApp Facebook
c

cwdem

Tim Redaksi Medis RS Medika Prima berdedikasi menghadirkan artikel kesehatan akurat, teruji secara ilmiah, dan mudah dipahami masyarakat luas.